Jika menyinggung perihal sastra pesantren, tentu hal pertama yang terbayang adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman masyarakat mengenai perkembangan sejarah Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan Islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan atau sekitaran pantai. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran dan terkena dampak terjadinya perkembangan dan pertumbuhan Islam. Proses penyiaran yang dilakukan kala itu salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk kepentingan syiar agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif.
Perkembangan mengenai
sastra pesantren saat ini juga menunjukkan perkembangan yang cukup semarak.
Kreativitas penulisan cerpen, novel, esai, puisi, dan juga drama dalam
pesantren meningkat, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Mereka
menulis, merefleksi, dan bahkan menggugat lingkungan dan pemikiran dunia
pesantren yang selama ini dianggap menyesakkan. Beberapa karya sastra pesantren
dibeli oleh production house untuk
diangkat menjadi sinetron televise dan di tayangkan di bioskop (Dok. The Wahid Institute, 2007, dalam
Machsum, Kepengayoman Terhadap Sastra
Pesantren di Jawa Timur, 2013)
Perkembangan karya
sastra pesantren tersebut tentu sangat menggembirakan karena sebelumnya karya
sastra pesantren jumlahnya sangat sedikit dan terbatas, bahkan dalam
pertumbuhan dan percaturan sastra di Indonesia kurang diperhitungkan. Munawwar
menyatakan bahwa fenomena itu menunjukkan sesuatu komplikasi yang unik karena
eksistensi sastra pesantren selama ini mengalami sepi dari penciptaan-penciptaan
baru (Machsum, 2010 : 509).
Perkembangan dan
pertumbuhan yang cukup baik ini tentu tidak terlepas dari para Kiai dan
pengasuh pondok. Jika kita lihat, saat ini banyak sekali pondok-pondok yang di
dalamnya diajarkan mengenai kejurnalistikan, tentang bagaimana cara menulis. Di
pondok-pondok saat ini juga mayoritas sudah mempunyai buletin mingguannya
masing-masing, bahkan sudah ada yang mempunyai buletin harian. Ini menunjukkan
sebuah ikhtiar yang memang serius digalakkan oleh pengasuh pondok.
Apabila dicermati
dengan seksama, perkembangan sastra pesantren tersebut tampak ada campur tangan
dari luar sistem mikro sastra. Satu di antara campur tangan adalah hadirnya
pengayom. Kepengayoman adalah suatu lembaga atau perseorangan yang berada di
lingkungan sistem makro sastra dan lembaga tersebut memiliki fungsi khusus,
yaitu mendukung, membantu, atau menyokong kehadiran karya seni, termasuk dalam
kehidupan sastra, memberi kemudahan dalam proses kehadiran sastra (Machsum, Kepengayoman Terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur, 2013)
Ketika kita mencoba
untuk menengok sejarah pun, tidak sedikit pergerakan-pergerakan yang berawal
dari pesantren, atau kaum santri tersebut. Kita bisa melihat kaum santri atau
kaum padri yang berjuang melawan kaum ada yang dihasut oleh Belanda untuk
memusuhi kaum padre tersebut. Lalu pesantren-pesantren di tanah jawa yang
menjadi garda terdepan dalam melawan kolonialisme Belanda. Oleh karena itu,
Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang terkenal mengatakan bahwa “jika
tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme
di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”.
Sumber:
Abdullah, Muhammad. 2009. Khazanah Sastra Pesisir. BP Undip: Semarang
Penelitian Machsun, Toha. 2013. Kepengayoman terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur. Maluku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar