Friedrich
Engels: The Origin of the Family, Private Property and the state
(Asal-usul
Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara)
Meskipun bapak Marxisme tidak
mempertimbangkan opresi terhadap perempuan dengan keseriusan yang sama dengan
pertimbangannya atas opresi teradap pekerja, beberapa dari mereka menawarkan
penjelasan mengapa perempuan teropresi dengan perempuan. Engels beragumentasi
bahwa sebelum keluarga, atau hubungan perkawinan, ada satu keadaan primitif
“hubungan seksusal yang permisif” yang dalam hubungan ini setiap perempuan
adalah permainan yang adil bagi setiap laki-laki dan sebaliknya.
Dengan menekankan bahwa ketika
seorang laki-laki mengambil seorang perempuan, ia kemudian hidup di dalam rumah
tangga si perempuan, Engels memaknai keadaan ini bukan sebagai tanda
subordinasi perempuan, melainkan sebagai tanda kekuatan ekonomi perempuan.
Karena pekerjaan perempuan adala vital bagi seluruh suku dan karena perempuan
menghasilkan benda-benda material (tempat untuk tidur, pakaian, alat-alat untuk
masak) yang dapat diturunkan kepada generasi berikutnya, Engels menyimpulkan
bahwa masyarakat berpasangan awal mungkin adalah masyarakat matrilineal, dengan
garis hak waris dan keturunan ditelusuri dari garis ibu.
Sedikit agak menyimpang, Engels
Berspekulasi bahwa masyarakat berpasangan mungkin bukan hanya matrilineal,
tetapi juga matriarkal, masyarakat yang di dalamnya perempuan mempunyai
kekuatan ekonomi, sosial, dan politik. Tetapi poin utamanya, dan yang tentu
saja tidak terlalu banyak diperdebatkan, tetap bahwa apa pun status perempuan
di masa lalu, status itu diperoleh dari posisinya di dalam rumah tangga, pusat
produksi primitif. “Domestikasi binatang dan pembiakan ternak” membawa kepada
suatu sumber kekayaan yang baru bagi komunitas manusia. Setelah laki-laki
memperoleh kendali atas binatang milik kelompok suku (Engels tidak memberi tahu
kita bagaimana atau engapa), kekuasaan relatif perempuan dan laki-laki berubah
menjadi lebih menguntungkan laki-laki, sejalan dengan kemampuan baru yang
dipelajari laki-laki untuk menghasilkan lebih dari cukup agar memenuhi
kebutuhan susu dan daging kelompoknya.
Sejalan dengan semakin dianggap
pentingnya pekerjaan dan produksi laki-laki, bukan saja nilai dan pekerjaan dan
produksi perempuan menurun, melainkan status perempuan di dalam masyarakat juga
menurun. Karena laki-laki kini memiliki sesuatu yang lebih bernilai daripada yang dimiliki oleh perempuan, dan
karena laki-laki, untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan, tiba-tiba
menginginkan anak-anaknya sendiri yang
akan memperoleh hak milik mereka,laki-laki
memberlakukan tekanan yang sangat besar untuk mengubah masyarakat matrilineal
menjadi patrilineal. Dalam kalimat Engels, hak ibu harus “dihancurkan, dan
dihancurkan hak ibu.”
Munculnya
kepemilikan pribadi, dan perubahan dari garis patrilineal juga menjelaskan,
bagi Engels, transisi ke arah perkawinan monogami. Sebaliknya, identitas sang
ayah tidak pernah pasti, karena perempuan dapat saja menjadi hamil karena
laki-laki lain selain suaminya. Untuk memastikan kesetiaan marital istrinya,
laki-lakilah yang tampaknya berusaha memberlakukan institusi keharusan monogami
pada perempuan. Idealnya, suami harus juga monogami seperti istrinya, tetapi
masyarakat patriarkal tidak menuntut kesetiaan
marital dari laki-laki. Karena itu, menurut Engels, tujuan satu-satunya dari
institusi monogami adalah untuk menjadi kendaraan agar terjadi pengalihan yang
teratur atas kepemilikan sang ayah kepada anaknya. Dominasi laki-laki, dalam
bentuk sistem patrilineal dan patriarkal , semata-mata merupakan hasil dari
pembagian kelas atas laki-laki yang berkepemilikan dan perempuan yang tidak
mempunyai kepemilikan. Engels mengomentari monogami sebagai “bentuk pertama
keluarga yang didasarkan bukan kepada alam, melainkan pada kondisi ekonomi”,
yang mengisyaratkan bahwa keluarga monogami bukanlah merupakan produk dari
cinta dan komitmen, melainkan dari permainan kekuatan kebutuhan ekonomi yang
mendesak.
Karena
perkawinan monogami adalah institusi sosial yang tidak ada hubungannya dengan
cinta, dan sangat berhubungan dengan kepemilikan pribadi, Engels berargumentasi
bahwa jika istri-istri akan diemansipasikan oleh laki-laki, perempuan
pertama-tama harus menjadi mandiri dan tidak bergantung pada laki-laki. Bahkan
syarat pertama bagi emansipasi perempuan adalah “masuknya kembali seluruh
perempuan ke dalam industri publik” ; kedua, sosialisasi pengurusan rumah
tangga dan pengasuhan anak.
Layak
untuk dicatat bahwa Engels percaya, perempuan proletar mengalami lebih sedikit
opresi dibandingkan perempuan borjuis. Menurutnya, keluarga borjuis terdiri
dari hubungan antara suami dan istri yang pengaturannya adalah suami menyetujui
untuk menghidupi istrinya asalkan istrinya tersebut berjanji untuk secara
seksual setia kepadanya dan untuk mereproduksi hanya pewaris yang sah.
Tidak
seperti perkawinan borjuis, perkawinan proletar, menurut Engels, bukanlah
merupakan modus pelacuran karena kondisi material dari keluarga proletar secara
substansial berbeda dari keluarga borjuis. Bukan saja karena ketiadaan
kepemilikan pribadi yang sangat penting dalam menghilangkan insentif utama
laki-laki atas monogami –yaitu, reproduksi hak waris yang sah atas kepemilikan
pribadinya- tetapi, karena kebanyakan perempuan proletar bekerja di luar rumah
yang memungkinkan adanya bentuk kesetaraan antara suami dan perempuan.
Kesetaraan ini, menurut Engels, memungkinkan adanya dasar bagi “cinta-seks”
sejati. Di samping perbedaan-perbedaan itu, otoritas rumah tangga dari suami
proletar, tidak seperti otoritas suami borjuis, mungkin tidak akan mendapat
dukungan sepenuhnya dari lembaga hukum. Untuk semua alasan itu, Engels
menyimpulkan bahwa dengan pengecualian “brutalitas residual” (kekerasan oleh
pasangan), semua “dasar material dominasi laki-laki sudah tidak ada lagi” dalam
rumah kaum proletar.
Meskipun
feminis Marxis masih mengacu kepada teks Engels Origin secara positif dalam tulisan-tulisannya, kebanyakan dari
mereka, masih menunjukkan kelemahannya. Misalnya, Jane Flax menyalahkan Engels
atas pendapatnya bahwa “penentu paripurna dari seluruh sejarah” adalah
“produksi dan reproduksi kehidupan”, dan kemudian berfokus secara eksklusif
pada produksi kehidupan, yang bagi
Engels tetap merupakan alat utama untuk melemahkan perjuangan kelas, dan karena
itu gerakan historis. Misalnya, Engels menjelaskan bahwa penghancuran “hak ibu”
adalah sekedar perubahan dalam modus produksi, kepemilikan komunitas
dihancurkan oleh kepemilikan pribadi. Tetapi, kepemilikan komunitas dihubungkan
dengan perempuan, sementara kepemilikan
pribadi dengan laki-laki, Flax
berteori bahwa penghancuran “hak ibu” (jika memang ada) mungkin merefleksi
perubahan dalam modus produksi, paling tidak dalam tingkatan yang sama dengan
perubahan modus produksi.
Bagi
Flax, yang lebih mengkhawatirkan daripada pengabaian faktor reproduksi
kehidupan Engels adalah keyakinannya atas suatu pembagian kerja asal
berdasarkan jenis kelamin. Tanpa menjelaskan bagaimana pembagian ini muncul,
Engels hanya menyatakan bahwa di dalam kelompok, perempuan dibebani pekerjaan
pengurusan rumah tangga, sementara laki-laki menyediakan makanan dan melakaukan
pekerjaan produktif.
Feminisme Marxis Kontemporer
Karena
teori Marxis hanya memiliki ruang yang sempit bagi isu yang berhubungan
langsung dengan kepentingan reproduksi dan seksusal perempuan, banyak feminis
Marxis yang pada awalnya memfokuskan diri pada hal-hal yang berkenaan dengan
pekerjaan perempuan. Mereka menjelaskan, misalnya, bagaimana institusi keluarga
berkaitan dengan kapitalisme, bagaimana pekerjaan rumah tangga diremehkan
sebagai bukan pekerjaan yang sungguh-sungguh, dan bagaimana perempuan, secara
umum, diserahi pekerjaan yang paling membosankan dengan upah yang rendah.
Seperti yang akan kita cermati, bahkan jika sofat dan fungsi pekerjaan
perempuan bukanlah penjelasan yang utuh atas opresi gender, penjelasan itu
secara parsial sangat menyenangkan.
Keluarga dan Rumah Tangga di Bawah Patriarki
Sebelum
muncul kapitalisme industri, keluarga atau rumah tangga adalah tempat produksi.
Orangtua, anak-anaknya, dan beberapa anggota keluarga tertentu bekerja
bersama-sama untuk mereproduksi diri, baik di dalam satu generasi maupun
antargenerasi. Pekerjaan yang dilakukan perempuan –memasak, mengalengkan,
menanam, mengawetkan, mengandung anak, serta mengasuh anak–bersifat sentral
bagi kegiatan ekonomi dari keluarga besar sebagaimana pekerjaan yang dilakukan
laki-laki. Tetapi, dengan industrialisasi dan transfer produksi barang-barang
dari rumah tangga pribadi ke dalam tempat kerja publik, perempuan, yang
kebanyakan tidak memasuki tempat kerja publik sejak awal, dianggap
“nonproduktif”, sebaliknya, pekerjaan laki-laki yang menghasilkan ke dalam
istilah produksi.
Jika
pekerjaan perempuan adalah Cinderella dari budget sosialis, pekerjaan perempuan
juga merupakan anak tiri yang diabaikan dari budget kapitalis. Sedapat mungkin,
kapitalisme membutuhkan perempuan untuk tetap bekerja “tanpa dibayar” di dalam
rumah tangganya, bahkan ketika kapitalisme juga membutuhkan perempuan untuk
bekerja dengan upah rendah di tempat kerja. Marx dan Engels memprediksi bahwa
di bawah kapitalisme, seluruh kelas pekerja, termasuk perempuan dan anak-anak
di atas usia yang sangat rendah, harus menjadi bagian dari sumber daya manusia
publik untuk secara bersama-sama menghasilkan upah bagi keluarga. Dengan tidak
ada lagi yang tersisa di dalam rumah tangga untuk mereproduksi kekuatan kerja
laki-laki kelas pekerja, laki-laki dan juga perempuan serta kebanyakan
anak-anak “akan dieksploitasi secara individual sebagai pekerja yang
mengharapkan upah yang harus mereprofuksi kebutuhan individunya sendiri untuk
konsumsi/produksi.” Revolusi proletar akan menjadi mudah untuk dipicu, karena
hampir semua kelas pekerja merasakan akibat langsung dari eksploitasi itu.
Sosialisasi Pekerjaan Rumah Tangga
Yang
paling menggusarkan feminis Marxis mengenai gambaran dari sifat dan fungsi
pekerjaan perempuan di bawah kapitalisme adalah peremehan pekerjaan perempuan. Perempuan
semakin dianggap sebagai konsumen semata, seolah-olah peran laki-laki adalah
untuk menghasilkan upah, sementara peran perempuan adalah menghabiskannya untuk
“produk yang tepat dari industri kapitalis.” Tetapi, menurut Margaret Benston,
perempuan pada awalnya merupakan produsen “yang bertanggung jawab atas produksi
nilai guna sederhana dalam kegiatan yang diasosiasikan rumah dan keluarga.
Menurut
Benston, memberikan peluang bagi seorang perempuan untuk memasuki industri
publik tanpa secara bersamaan mensosialisasikan pekerjaan memasak, membersihkan
dan mengasuh anak, berarti menjadikan kondisi teropresinya lebih buruk. Kunci
bagi pembebasan perempuan adalah sosialisasi pekerjaan rumah tangga.
Benston
mengakui bahwa sosialisasi pekerjaan rumah tangga dapat menggiring perempuan
untuk mengerjakan pekerjaan yang sama di luar rumah esok, sebagaimana yang
dilakukannya di rumah kini. Suatu perubahan terhadap pengaturan makan secara
komunal, misalnya, dapat semata-mata bermakna memindahkan perempuan dari dapurnya
yang individual, pribadi, dan kecil ke dalam dapur yang besar, publik, dan
komunal. Benston memprediksi bahkan perubahan kecil ini akan merepresentasi
kemajuan bagi perempuan. Pentingnya sosialisasi pekerjaan rumah tangga bukanlah
karena itu akan membebaskan perempuan dari pekerjaan rumah tangga, melainkan
karena hal itu akan memungkinkan setiap orang untuk menyadari betapa pentingnya
pekerjaan itu secara sosial.
Kampanye Upah untuk Pekerjaan Rumah Tangga
Beberapa
argumentasi yang mendukung Pekerjaan Rumah Tangga yang dilihat. Meskipun
Benston, berlawanan dengan Engels, menempatkan prioritas pada sosialisasi
pekerjaan rumah tangga daripada masuknya perempuan secara massal ke dalam
industri publik, ia tetap berada dalam batasan pemikiran Marxis Ortodoks. Dalam
Women and the Subversion of the Community.
Maria Dalla Costa serta Selma James menyampaikan klaim Marxis yang tidak
ortodoks, menurut mereka, pekerjaan rumah tangga perempuan adalah produktif dan
bukan dalam makna sehari-hari berarti “berguna”, melainkan dalam makna Marxis
yang tegas sebagai sesuatu “yang menciptakan nilai surplus.” Tidak seorang
perempuan pun harus memasuki sumber daya produktif karena semua perempuan
sesungguhnya sudah berada di dalamnya, bahkan jika tidak seorang pun menyadari itu.
Pekerjaan perempuan adalah kondisi yang penting bagi semua jenis pekerjaan
lain, yang kemudian diekstrasi menjadi nilai surplus. Dengan menyediakan bagi
pekerja masa kini (dan masa datang) bukan saja makanan dan pakaian, melainkan
juga kenyamanan emosional dan domestik, maka perempuan menjaga agar roda mesin
kapitalis terus bekerja.
Seperti
pendukung upah atas pekerjaan rumah tangga yang lain, Dalla Costa dan james
mengajukan agar negara (pemerintah dan majikan), dan bukan laki-laki secara
individu (suami, ayah, kekasih), membayar upah kepada ibu rumah tangga karena kapital pada akhirnya mengambil
keuntungan dari eksploitasi terhadap perempuan. Karena diharuskan untuk
membayar kepada perempuan atas pekerjaan rumah tangga, negara tidak akan mampu
mengakumulasi keuntungan yang besar, sementara ibu rumah tangga sendiri bekerja
keras untuk upah yang sangat kecil.
Beberapa argumentasi feminis Marxis mennetang pekerjaan
rumah tangga yang dibayar.
Alih-alih kuatnya alasan yang diberikan Dalla Costa dan James, konsensus yang
mulai muncul di antara deminis Marxi adalah, pada akhirnya, membayar upah atas
pekerjaan rumah tangga merupakan suatu hal yang tidak mungkin dan juga tidak
diinginkan sebagai strategi pembebasan bagi perempuan. Hal itu tidak mungkin
karena bahkan jika negara membayar upah kepada ibu rumah tangga, negara akan
melakukannya dengan cara yang memungkinkannya untuk menjaga kelangsungan
dirinya sendiri. Berlawanan dengan mimpi kampanye upah untuk pekerjaan ibu
rumah tangga, negara tidak merendahkan diri ketika negara membayar ibu rumah
tangga gaji yang, menurut perkiraan yang dapat dipertanggung jawabkan, akan
melebihi dua atau tiga kali gaji perempuan rata-rata yang bekerja di sektor
publik. Apa yang kemungkinan akan dilakukan negara, menurut Barbara Bergmann,
adalah membebani pajak khusus kepada laki-laki yang sudah menikah yang mungkin
akan diretribusikan kepada istri mereka oleh Internal Revenue Service (kantor pajak). Bergantung berapa besar
pajak yang dibebankan kepada dollar suaminya –dan mudah diperkirakan beban itu
akan sangat besar –bayaran yang diterima istri, dalam hubungannya dengan
pendapat real keluarga, hanya akan merepresentasi suatu kenaikan status saja.
Jalan lain yang dapat ditempuh adalah negara akan membebani pajak kepada setiap
orang tanpa mempertimbangkan apakah yang terkena pajak memang hidup di dalam
rumah tangga yang dilayani oleh ibu rumah tangga. Efek pasti dari rencana ini
adalah pembebanan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak menikah dan
keluarga-keluarga yang dihidupi oleh dua orang yang, secara rata-rata, sudah
lebih miskin daripada keluarga-keluarga yang dihidupi oleh satu orang, yang
suaminya bekerja di luar rumah dan istrinya bekerja di dalam rumah. Akibatnya, rencana ini akan
“mendorong perempuan untuk menjadi dan tetap menjadi ibu rumah tangga.”
Jika
menghancurkan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin adalah tujuan akhir
feminis Marxis, maka membayar ibu rumah tangga untuk pekerjaan rumah tangga,
tampaknya yang paling baik merupakan pengalihan perhatian, yang terburuk adalah
hambatan. Akan lebih baik untuk menerima rekomendasi Benston dan mensosialisasikan
pekerjaan rumah tangga serta pengasuhan anak. Bahkan jika seorang perempuan
pada akhirnya melakukan “pekerjaan perempuan” di luar rumah, pekerjaan itu akan
memberikannya kesempatan untuk bekerja dengan perempuan lain dan untuk
membentuk suatu kesadaran kelas; jika seseorang dibayar atas pekerjaannya
sesuai dengan nilainua, paliing tidak sebagian dati “pekerjaan perempuan” dapat
menjadi menarik untuk laki-laki yang dapat memperoleh pendapatan yang layak
dari pekerjaan itu.
Tentu
saja, kelas pekerja dapat menentukan untuk tidak hidup dalam keluarga inti,
karena itu dapat membebaskan perempuan dari kewajiban domestik yang
diasosiasikan dengan modus tatanan manusia. Tetapi, terutama atas dasar alasan
ideologis dan emosional, laki-laki dan perempuan kelas pekerja tetap berharap
untuk dapat mempunyai, paling tidak, keluarga inti yang ideal. Ketika pekerjaan
domestik menjadi begitu membebani dan tidak dapat diatasi oleh dua orang yang
bekerja penuh waktu tanpa bantuan dari pihak luar (bayangkan misalnya, jika
pasangan yang bekerja mempunyai kembar tiga, jika seorang orangtua mempunyai
penyakit Alzheimer, atau jika seorang remaja terkena AIDS), yang mungkin
terjadi adalah salah satu akan turun statusnya dengan bekerja paruh waktu atau
tidak bekerja sama sekali. Meskipun tidak ada undang-undang abstrak kapitalis
yang memerintahkan bahwa orang kelaur dari pasar tenaga kerja harus perempuan
dan bukan laki-laki, dalam banyak kasus, perempuanlah yang akan berhenti
bekerja, dan bukan laki-laki, karena secara rata-rata upah perempuan lebih
rendah daripada upah laki-laki. Menurut pendapat feminis Marxis, dan akan
kembali ke dunia pribadi, selama upah perempuan tetap lebih rendah daripada
laki-laki, dan selama perempuan dianggap lebih mampu untuk merawat mereka yang
masih kecil, yang sudah tua dan yang cacat daripada laki-laki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar