“Biasa akan
menjadi budaya dan terbudayakan, maka biasakanlah yang baik agar menjadi
kebudaayan yang baik pula serta menghasilkan produk budaya yang baik” -Anonim
Kebudayaan merupakan fakta kompleks yang
selain memiliki kekhasan pada batas tertentu juga memiliki ciri yang bersifat
universal. Menurut KBBI, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin
(akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Selain
berupa produk, kebudayaan juga bisa berupa kebiasaan yang terakumulasi sehingga
menjadi sesuatu yang identik kekhasan dari suatu wilayah tertentu. Dalam
berkehidupan, manusia memiliki sebuah hal yang dijadikan sebagai kebiasaan dan
kebiasaan ini akan menjadi sebuah kebudayaan. Hal yang mengakar dalam
masyarakat tersebut. Beruntung ketika kebiasaan-kebiasaan yang diturunkan
secara turun-temurun berupa kebiasaan yang baik dan membaikkan, maka akan
menjadi produk kebudayaan yang sama pula. Namun ketika kebiasaan-kebiasaan tersebut
berupa hal yang tidak membawa pada kebaikan, maka akan menghasilkan produk yang
tidak membawa pada kebaikan pula.
Indonesia dikenal luas sebagai negeri yang
kaya akan budaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Indonesia Investment
menyebutkan bahwa budaya Indonesia sangat berbeda dari budaya barat, ini
dikarenakan ada perbedaan dalam pengamalan, sistem keyakinan, hierarki,
pengertian tentang waktu, dan lainnya. Perwajahan akan budaya ke-timur-an
sangat kental di negeri ini. Dengan keramahannya, semua kalangan merasa nyaman
menetap atau hanya sekadar singgah di Indonesia. Itulah perwajahan Indonesia di
mata dunia. Wajah penuh dengan kesopanan, keramahan, dan kehangatan.
Lalu ketika kita menengok kondisi Indonesia
saat ini, wajah ke-timur-an tersebut hampir tertutupi oleh wajah yang
mengatasnamakan “modernisasi”. Memang kita tidak bisa menghambat dan memungkiri
akan kemajuan teknologi. Tetapi ketika kita hanya menelan mentah-mentah maka
akan kurang baik juga bagi kita ke depannya nanti. Ini yang menjadi banyak
catatan bagi kita. Era gobalisasi ini sejatinya memudahkan bagi para
penggunanya, pengguna yang bisa memanfaatkannya. Menurut data dari Kominfo,
Indonesia merupakan Negara ke-6 terbesar di dunia yang menggunakan internet
–salah satu tolak ukur modernisasi adalah internet–, semua kalangan sudah bisa
menjangkau gelombang elektromagnetik tersebut. Tawaran kemudahan yang menggiurkan, dan akan sangat bermanfaat
ketika dipergunakan dengan arif, dan sangat berbahaya ketika digunakan
sebaliknya. Pisau bermata dua memang.
Ketika kita berbicara kebudayaan, maka
objek yang paling banyak disorot adalah pemuda. Sebuah aset negara yang invaluable. Kunci perwajahan Indonesia
ke depan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ketika kaum muda dari suatu negeri
itu baik, maka baik pula lah negerinya. Sebuah cerminan bagi negerinya. Lalu
bagaimanakah kondisi pemuda di Indonesia sekarang? Terkadang kita masih sering
mengelus-elus dada ketika melihat ataupun membaca suatu portal berita ataupun
surat kabar. Hampir setiap hari di sana terdapat kolom yang memberitakan
terkait pemuda dengan segala tindak negatifnya. Dari mulai pencurian,
pemerkosaan, perampokan, dan sebagainya. Lalu di manakah kebudayaan ketimuran
kita? Ini yang masih dan akan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua,
bukan hanya Negara. Memang sangat subjektif ketika hanya menyajikan sesuatu
yang negatif terkait pemuda, karena faktanya banyak pula hal positif yang
keluar dari kepala-kepala pemuda. Oleh karena itulah sudah menjadi tugas kita
untuk tetap menjaga dan meningkatkan serta mengembangkan hal-hal positif yang
sudah dihasilkan dan menghasilkan sesuatu. Sembari kita “mengobati” tren-tren
negatif yang bersarang di kalangan pemuda serta membuat tindakan-tindakan
preventif agar hal-hal tersebut bisa kita tanggulangi sebelum menjangkit di
kalangan pemuda kita.
Sumber:
KBBI Edisi Terbaru
kbbi.kemdikbud.go.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar