Senin, 29 Mei 2017

Merindukan Kebudayaan





Biasa akan menjadi budaya dan terbudayakan, maka biasakanlah yang baik agar menjadi kebudaayan yang baik pula serta menghasilkan produk budaya yang baik” -Anonim

Kebudayaan merupakan fakta kompleks yang selain memiliki kekhasan pada batas tertentu juga memiliki ciri yang bersifat universal. Menurut KBBI, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Selain berupa produk, kebudayaan juga bisa berupa kebiasaan yang terakumulasi sehingga menjadi sesuatu yang identik kekhasan dari suatu wilayah tertentu. Dalam berkehidupan, manusia memiliki sebuah hal yang dijadikan sebagai kebiasaan dan kebiasaan ini akan menjadi sebuah kebudayaan. Hal yang mengakar dalam masyarakat tersebut. Beruntung ketika kebiasaan-kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun berupa kebiasaan yang baik dan membaikkan, maka akan menjadi produk kebudayaan yang sama pula. Namun ketika kebiasaan-kebiasaan tersebut berupa hal yang tidak membawa pada kebaikan, maka akan menghasilkan produk yang tidak membawa pada kebaikan pula.
Indonesia dikenal luas sebagai negeri yang kaya akan budaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Indonesia Investment menyebutkan bahwa budaya Indonesia sangat berbeda dari budaya barat, ini dikarenakan ada perbedaan dalam pengamalan, sistem keyakinan, hierarki, pengertian tentang waktu, dan lainnya. Perwajahan akan budaya ke-timur-an sangat kental di negeri ini. Dengan keramahannya, semua kalangan merasa nyaman menetap atau hanya sekadar singgah di Indonesia. Itulah perwajahan Indonesia di mata dunia. Wajah penuh dengan kesopanan, keramahan, dan kehangatan.
Lalu ketika kita menengok kondisi Indonesia saat ini, wajah ke-timur-an tersebut hampir tertutupi oleh wajah yang mengatasnamakan “modernisasi”. Memang kita tidak bisa menghambat dan memungkiri akan kemajuan teknologi. Tetapi ketika kita hanya menelan mentah-mentah maka akan kurang baik juga bagi kita ke depannya nanti. Ini yang menjadi banyak catatan bagi kita. Era gobalisasi ini sejatinya memudahkan bagi para penggunanya, pengguna yang bisa memanfaatkannya. Menurut data dari Kominfo, Indonesia merupakan Negara ke-6 terbesar di dunia yang menggunakan internet –salah satu tolak ukur modernisasi adalah internet–, semua kalangan sudah bisa menjangkau gelombang elektromagnetik tersebut. Tawaran kemudahan  yang menggiurkan, dan akan sangat bermanfaat ketika dipergunakan dengan arif, dan sangat berbahaya ketika digunakan sebaliknya. Pisau bermata dua memang.

Ketika kita berbicara kebudayaan, maka objek yang paling banyak disorot adalah pemuda. Sebuah aset negara yang invaluable. Kunci perwajahan Indonesia ke depan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ketika kaum muda dari suatu negeri itu baik, maka baik pula lah negerinya. Sebuah cerminan bagi negerinya. Lalu bagaimanakah kondisi pemuda di Indonesia sekarang? Terkadang kita masih sering mengelus-elus dada ketika melihat ataupun membaca suatu portal berita ataupun surat kabar. Hampir setiap hari di sana terdapat kolom yang memberitakan terkait pemuda dengan segala tindak negatifnya. Dari mulai pencurian, pemerkosaan, perampokan, dan sebagainya. Lalu di manakah kebudayaan ketimuran kita? Ini yang masih dan akan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, bukan hanya Negara. Memang sangat subjektif ketika hanya menyajikan sesuatu yang negatif terkait pemuda, karena faktanya banyak pula hal positif yang keluar dari kepala-kepala pemuda. Oleh karena itulah sudah menjadi tugas kita untuk tetap menjaga dan meningkatkan serta mengembangkan hal-hal positif yang sudah dihasilkan dan menghasilkan sesuatu. Sembari kita “mengobati” tren-tren negatif yang bersarang di kalangan pemuda serta membuat tindakan-tindakan preventif agar hal-hal tersebut bisa kita tanggulangi sebelum menjangkit di kalangan pemuda kita.



Sumber:
KBBI Edisi Terbaru
kbbi.kemdikbud.go.id

Pesantren, Sebuah Tonggak Awal

Jika menyinggung perihal sastra pesantren, tentu hal pertama yang terbayang adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman masyarakat mengenai perkembangan sejarah Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan Islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan atau sekitaran pantai. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran dan terkena dampak terjadinya perkembangan dan pertumbuhan Islam. Proses penyiaran yang dilakukan kala itu salah satunya melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk kepentingan syiar agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif.
Perkembangan mengenai sastra pesantren saat ini juga menunjukkan perkembangan yang cukup semarak. Kreativitas penulisan cerpen, novel, esai, puisi, dan juga drama dalam pesantren meningkat, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Mereka menulis, merefleksi, dan bahkan menggugat lingkungan dan pemikiran dunia pesantren yang selama ini dianggap menyesakkan. Beberapa karya sastra pesantren dibeli oleh production house untuk diangkat menjadi sinetron televise dan di tayangkan di bioskop (Dok. The Wahid Institute, 2007, dalam Machsum, Kepengayoman Terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur, 2013)
Perkembangan karya sastra pesantren tersebut tentu sangat menggembirakan karena sebelumnya karya sastra pesantren jumlahnya sangat sedikit dan terbatas, bahkan dalam pertumbuhan dan percaturan sastra di Indonesia kurang diperhitungkan. Munawwar menyatakan bahwa fenomena itu menunjukkan sesuatu komplikasi yang unik karena eksistensi sastra pesantren selama ini mengalami sepi dari penciptaan-penciptaan baru (Machsum, 2010 : 509).
Perkembangan dan pertumbuhan yang cukup baik ini tentu tidak terlepas dari para Kiai dan pengasuh pondok. Jika kita lihat, saat ini banyak sekali pondok-pondok yang di dalamnya diajarkan mengenai kejurnalistikan, tentang bagaimana cara menulis. Di pondok-pondok saat ini juga mayoritas sudah mempunyai buletin mingguannya masing-masing, bahkan sudah ada yang mempunyai buletin harian. Ini menunjukkan sebuah ikhtiar yang memang serius digalakkan oleh pengasuh pondok.
Apabila dicermati dengan seksama, perkembangan sastra pesantren tersebut tampak ada campur tangan dari luar sistem mikro sastra. Satu di antara campur tangan adalah hadirnya pengayom. Kepengayoman adalah suatu lembaga atau perseorangan yang berada di lingkungan sistem makro sastra dan lembaga tersebut memiliki fungsi khusus, yaitu mendukung, membantu, atau menyokong kehadiran karya seni, termasuk dalam kehidupan sastra, memberi kemudahan dalam proses kehadiran sastra (Machsum, Kepengayoman Terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur, 2013)

Ketika kita mencoba untuk menengok sejarah pun, tidak sedikit pergerakan-pergerakan yang berawal dari pesantren, atau kaum santri tersebut. Kita bisa melihat kaum santri atau kaum padri yang berjuang melawan kaum ada yang dihasut oleh Belanda untuk memusuhi kaum padre tersebut. Lalu pesantren-pesantren di tanah jawa yang menjadi garda terdepan dalam melawan kolonialisme Belanda. Oleh karena itu, Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang terkenal mengatakan bahwa “jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”.




Sumber:
Abdullah, Muhammad. 2009. Khazanah Sastra Pesisir. BP Undip: Semarang
Penelitian Machsun, Toha. 2013. Kepengayoman terhadap Sastra Pesantren di Jawa Timur. Maluku