Rabu, 21 September 2016

Krisis Pengelolaan dan Pengolahan

KRISIS PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN
            
            Siapa tak kenal Indonesia, negeri yang penuh dengan ragam budaya dan limpah sumber daya. Garis pantai yang terbentang sepanjang 99.093 km dan 124 juta hektar kawasan hutan sudah memberikan gambaran bahwa memang Indonesia punya kelebihan dibanding negara negara lain. Bukan hanya lingkup alam saja Indonesia luar biasa, dalam hal jumlah penduduk Indonesia menempati urutan ke 4 di dunia. Lantas, adakah kemustahilan untuk mewujudkan Indonesia menjadi sentra perekonomian, industri, pariwisata? Sepertinya tidak. Namun sepertinya perlu perjuangan keras untuk mewujudkan Indonesia seperti apa yang dicita citakan para pejuang terdahulu bangsa ini.
Pada titik ini, era ini, Indonesia seakan terjerembab dalam kubangan lumpur, sulit untuk keluar dan bebas. Memang dalam sisi gografis dan keragaman budaya kita jauh lebih unggul. Namun dalam hal pengelolaan kita masih sulit melepaskan diri dari jeratan bangsa asing.  Hampir segala aspek kita perlu uluran tangan yang sering dibilang investasi dari luar. Freeport yang dikuasai Amerika sehingga emas dan perak tambang dari sana hanya 1 dan 3,75 persen saja yang masuk pendapatan negara. Blok Mahakan dengan investasi dari British Petrolem pun juga demikian. Meraup keuntungan yang luar biasa dan menyerahkan ampas ampasnya kepada pihak kita.
Pemberian izin kepada perusahaan swasta baik lokal maupun asing atas tambang yang baru atau perpanjangan kontrak bagi yang sudah berjalan seperti kasus Blok Mahakam, Blok Tangguh yang diberikan kepada British Petrolem, tambang emas di Irian Jaya yang diberikan kepada PT Freeport  Amerika Serikat  dan ribuan kontrak karya lainnya,  selalu bermuara pada dua alasan klasik yang dikemukakan Pemerintah: ketidakmampuan Pertamina dan BUMN lainnya dari sisi teknologi dan  ketidakmampuan dari sisi permodalan.  Padahal fakta  membuktikan, kedua masalah tersebut  bukan masalah utama bagi Pertamina. Dari sisi teknologi Pertamina dan BUMN lainnya sudah mampu melakukan ekplorasi migas  baikonshore (darat),  offshare  (lepas pantai) maupun  laut dalam (deep water).  Begitu juga dari sisi permodalan. Seandainya Pemerintah atau Pertamina tidak memiliki dana, sebenarnya banyak  lembaga keuangan atau perbankan  yang bisa menjamin kucuran kredit jika Pertamina memiliki underlying asset (jaminan). Apalagi jika hal ini didukung oleh jaminan Pemerintah melalui  pemilikan cadangan nasional migas oleh Pertamina sebagai BUMN seperti halnya negara lain, misalnya Venezuela atau Malaysia melalui Petronasnya. 1
Di sisi lain, Indonesia pun terlihat belum cerdas dalam menyikapi bahan bahan mentah yang sudah ada. Seringkali bahan bahan tersebut langsung diekspor ke luar negeri tanpa diolah terlebih dulu. Padahal jelas keuntungan bakal berlipat ganda saat barang ekspor tersebut merupakan barang olahan dari bahan mentah tersebut. Mungkin inilah kepolosan Indonesia, suka mengekspor kakao namun kemudian bangga saat membeli coklat swiss seharga ratusan ribu. Crude Palm Oil pun juga tak jauh beda. Kita jual mentah dengan harga misal 1 Dollar nanti kita tinggal beli dengan harga 10 Dollar. Lucu. Lebih mirisnya, ketika sawah terhampar luas, padi menguning.. impor beras dari Thailand masih terus terjadi. Lebih lucu.
Inilah problematika sumber daya alam di Indonesia yang melimpah namun sedikit yang tertumpah di kita, tertampung ke investor asing. Dijual oleh kita namun kerugian juga kita yang dapat. Langkah yang bisa kita upayakan adalah tetap berada dalam koridor kebaikan dan terus mengembangkan ilmu serta pengetahuan terutama di bidang pengelolaan dan pengolahan sumber daya alam. Karena yang kita butuhkan saat ini adalah pemegang kendali negara yang bijaksana dan mengerti kebutuhan negaranya. Dan tentu saja kita yang nantinya menjadi pemegang kendali tersebut. Dan agar krisis seperti sekarang tidak terulang maka kita, generasi penerus, perlu mengoptimalkan apa yang ada di diri kita sehingga kita benar benar siap dalam memperbaiki dan mengembangkan sayap Garuda yang sudah patah kini.



1 http://hizbut-tahrir.or.id/